Sabtu, 22 Nopember 2008 tiga klub asal Trenggalek berangkat menuju Songgoriti-Kota Batu untuk mengikuti Sejawat seri 5. Mereka adalah Mountain Bike Rider Community (MRC), Trenggalek Cycling Club (TCC) dan Soedomo Hospital Cycling Club (SHCC).
SHCC berangkat paling awal, sekitar pukul 13.00 dengan armada truk berplat merah sebagai pengangkut 34 sepeda dan beberapa mobil untuk personilnya. Disusul kemudian pada jam 4 sore berangkat gabungan antara MRC dan TCC. Delapan belas sepeda diangkut dalam pikup dan empat mobil lain untuk para bikernya.
Sekitar jam 8 malam seluruhnya sudah sampai di kawasan Songgoriti. Kita menempati masing-masing villa yang sudah disediakan panitia. Lumayan juga villanya. Bersih,...rapi, perabotan juga lumayan. Tapi sayang gak da air hangat. Jadi males mandi gitu. Maklum aja, kita kan terbiasa tinggal di daerah yang lumayan panas.
Kesan pertama saat kedatangan terasa dingin sambutannya. sedingin hawa kota batu. Mak nyesss.... Kemeriahan seperti Sejawat 4 tak kami dapatkan. Datang, dikasih tau villanya, ya udah. Kita gak tau ada acara apa nggak malam itu. Yowes tidur wae mas. Lha raono opo-opo...... Kalopun ada kita gak tau tempatnya dimana. lha wong panitia juga gak kasih tau tempate dimana. Akhirnya semua pada ngorok, berlomba-lomba kenceng-kencengan suara Dong Feng.
Pagi jam 4 smua sudah pada bangun trus mandi dan siap-siap berangkat ke tempat start depan balai kota. dari villa samapi ke balai kota kira-kira 2 km. Lumayan buat pemanasan. Tapi gak bisa panas. Lha wong nylurut terus.
Start dari balai kota ternyata di depan masih ada start lagi yang dibagi 3 grade. Kita ikut yang tengah-tengah aja. Trek yang disuguhkan sangat pas untuk kita. antara tanjakan dan turunan imbang. Tanjakan tidak terlalu ekstrim meskipun panjang. Tapi turunannya OK BGT. Panjang berkelok dan di beberapa tempat kita bisa jumping2. Sip pokoke!!! Sayang apa yang kita harap gak jadi kenyataan. Dalam foto rute di situs Sejawat ada trek DH Paralayang atau Klemuk yang dilalui. Tapi ternyata cuma memotong pas drop habis start gate Klemuk. Yowis gpp tinimbang blass.
Pukul 09.30 kita finish. Tapi areal finishnya gimana gitu,. Adem tanpa gereget. Dangdutnya juga gak sip. Penyanyinya goyang2 dewe. Hehehe....... Habis dapat jatah makan siang yang 'kering' kita kembali ke villa dan siap-siap pulang. Akhirnya jam 2 siang kita start, pulang ke Trenggalek.
Photonya nyusul ya.
29.11.08
19.11.08
WATU JAGO HILL
Adalah sebuah trek light downhill yang ada di bukit sekitar Watu jago. Trek ini cuma berjarak 4km dari kota. Untuk masuk ke trek ini cukup mudah. Start gate trek ini cuma masuk 20 meter dari pinggir jalan aspal menuju kecamatan Bendungan, tepatnya 50 m sebelum gerbang TPA atau 50 m setelah tandon air PDAM. Wilayah ini masih masuk desa Srabah-Bendungan.
Diawali dari start ramp dengan tinggi 2meter akan meluncur ke arah timur. selepas start sepeda akan menapaki single track sepanjang 100m yang diakhiri dengan berm ke kiri. Sepuluh meter dari tikungan drop setinggi 80 cm sudah menanti. Begitu landing kita dipaksa membelokkan sepeda ke kiri dan ke kanan dengan turunan yang curam. Belum sempat kita menghela nafas turunan trap yang lebih curam sudah di depan mata yang berujung pada sebuah drop disisi jurang sebelum masuk trek lurus di dalam hutan pinus.
Di ujung trek lurus ini tikungan menurun ke kiri trus kanan dilanjutkan dengan trek lurus lagi. Di depan sudah menanti u-turn ke kiri dengan berm yang nyaman buat dilibas. dilanjutkan dengan tikungan patah ke kanan yang diikuti dengan tikungan ke kanan lagi dengan diikuti double jump di depannya.
lima puluh meter berikutnya tikungan ke kiri diikuti trap curam yang berujung pada tikungan kekiri yang dipenuhi akar pinus. Selanjutnya sebuah tikungan sempit yang nyelip diantara pohon diikuti dengan turunan yang berlanjut pada tikungan 'S'. Ujung tikungan ini ada drop yang tak tinggi tapi terasa menghempaskan badan. Pada trek lurus di depan terdapat sebuah superbowl yang aman buat ditaklukkan. Begitu mendarat trek keriting yang diikuti tikungan ke kiri sudah menyambut dan dilanjutkan dengan trek lurus sampai ke finish.
Saat ini trek dalam proses pengembangan agar speed bisa lebih keluar dan tentunya lebih panjang dan menantang
TREK>>>>>>>>
Di Trenggalek ada banyak pilihan trek dengan bermacam tantangan bagi anda penggemar cross country maupun all mountain.
TMBA
TMBA adalah sebuah sebutan event MTB yang pertama kali digelar di Trenggalek pada tahun 2003. Berawal dari pusat kota (alun-alun) perjalanan mengarah ke utara kota melewati jalan aspal mulus menuju desa Ngares. Memasuki desa Ngares udara sejuk mulai terasa pada saat kita melintasi kaki gunung yang ada di kanan jalan. Entah gunung apa namanya!? Berjalan ke utara kita akan menemui pertigaan, dimana pada hari-hari tertentu di sekitar sini ramai pedagang dan pengunjung pasar Ngares. Lepas dari pasar kita akan menemui tanjakan pertama dengan kemiringan yang lumayan sejauh 500 m. meski agak berat tapi pemandangan di sini cukup indah dengan bukit di sisi kiri dan kanan yang tampak hijau. Setelah menemui area perumahan penduduk (ex korban tanah longsor) jalanan akan melandai yang memungkinkan kita untuk ambil nafas. Perjalanan masih akan terus melewati jalanan aspal mulus naik turun dan berbelok-belok dengan hutan pinus di kiri kanan jalan. Di tengah perjalanan kita akan menemui gerbang TPA yang biasa digunakan ngaso para biker, sebelum sampai di pertigaan masjid desa Srabah. Di seputaran sini kita bisa istirahat lagi sambil menikmati sego angkrik (nasi plus bothok teri bungkus yang ditanak bareng) di warung kecil sekitar pertigaan. Menariknya makanan ini sangat menggugah selera, murah lagi. cuma 600 Rupiah per bungkus.

Dari pertigaan lanjut ke kanan yang akan disambut tanjakan extrim yang memaksa kita peras tenaga atau nuntun sepeda kita untuk menaklukkannya. Sampai puncaknya kita menemui jalanan landai yang dilanjutkan turunan yang curam di beberapa bagian sepanjang 500 m. Setelah bonus turunan ini kita akan dihadapkan tanjakan yang ekstrim lagi meski cuma 100 m dan berakhir di sebuah pertigaan perusahaan eternit. Dari sini kita ambil arah kanan mengambil jalan turunan makadam. Di ujung turunan kita akan bertemu tanjakan yang tak begitu tinggi, yang dilanjutkan turunan yang berkelok-kelok yang akan memacu adrenalin kita. Turunan dapat kita libas dengan kecepatan tinggi karena jalur yang cukup lebar. Pacu jantung akan berakhir di turunan kuburan (krn di samping kuburan). Selanjutnya dua tanjakan telah menyambut kita. Dari puncak tanjakan ini kita akan kembali dimanjakan dengan turunan panjang berbelok-belok dengan trek yang cukup lebar di bawah rindangnya hutan pinus Pager Ukir. Turunan sepanjang 4km ini merupakan trek favorit karena kontur tanah yang bergelombang menyajikan sensasi tersendiri. Di ujung turunan ini kita akan dihadapkan pada turunan berbatu cadas yang akan diikuti dengan lintasan berbatuan lepas yang berakhir di depan sebuah sekolah SD Sumberdadi. Disini para biker bisa istirahat sejenak sambil menikmati segarnya air sungai untuk membersihkan badan ataupun sepeda jika berlumpur.

Di tempat inilah seni bersepeda di TMBA berakhir. Perjalanan selanjutnya adalah jalan aspal kampung yang akan berakhir menuju pusat kota.






TMBA
TMBA adalah sebuah sebutan event MTB yang pertama kali digelar di Trenggalek pada tahun 2003. Berawal dari pusat kota (alun-alun) perjalanan mengarah ke utara kota melewati jalan aspal mulus menuju desa Ngares. Memasuki desa Ngares udara sejuk mulai terasa pada saat kita melintasi kaki gunung yang ada di kanan jalan. Entah gunung apa namanya!? Berjalan ke utara kita akan menemui pertigaan, dimana pada hari-hari tertentu di sekitar sini ramai pedagang dan pengunjung pasar Ngares. Lepas dari pasar kita akan menemui tanjakan pertama dengan kemiringan yang lumayan sejauh 500 m. meski agak berat tapi pemandangan di sini cukup indah dengan bukit di sisi kiri dan kanan yang tampak hijau. Setelah menemui area perumahan penduduk (ex korban tanah longsor) jalanan akan melandai yang memungkinkan kita untuk ambil nafas. Perjalanan masih akan terus melewati jalanan aspal mulus naik turun dan berbelok-belok dengan hutan pinus di kiri kanan jalan. Di tengah perjalanan kita akan menemui gerbang TPA yang biasa digunakan ngaso para biker, sebelum sampai di pertigaan masjid desa Srabah. Di seputaran sini kita bisa istirahat lagi sambil menikmati sego angkrik (nasi plus bothok teri bungkus yang ditanak bareng) di warung kecil sekitar pertigaan. Menariknya makanan ini sangat menggugah selera, murah lagi. cuma 600 Rupiah per bungkus.
Dari pertigaan lanjut ke kanan yang akan disambut tanjakan extrim yang memaksa kita peras tenaga atau nuntun sepeda kita untuk menaklukkannya. Sampai puncaknya kita menemui jalanan landai yang dilanjutkan turunan yang curam di beberapa bagian sepanjang 500 m. Setelah bonus turunan ini kita akan dihadapkan tanjakan yang ekstrim lagi meski cuma 100 m dan berakhir di sebuah pertigaan perusahaan eternit. Dari sini kita ambil arah kanan mengambil jalan turunan makadam. Di ujung turunan kita akan bertemu tanjakan yang tak begitu tinggi, yang dilanjutkan turunan yang berkelok-kelok yang akan memacu adrenalin kita. Turunan dapat kita libas dengan kecepatan tinggi karena jalur yang cukup lebar. Pacu jantung akan berakhir di turunan kuburan (krn di samping kuburan). Selanjutnya dua tanjakan telah menyambut kita. Dari puncak tanjakan ini kita akan kembali dimanjakan dengan turunan panjang berbelok-belok dengan trek yang cukup lebar di bawah rindangnya hutan pinus Pager Ukir. Turunan sepanjang 4km ini merupakan trek favorit karena kontur tanah yang bergelombang menyajikan sensasi tersendiri. Di ujung turunan ini kita akan dihadapkan pada turunan berbatu cadas yang akan diikuti dengan lintasan berbatuan lepas yang berakhir di depan sebuah sekolah SD Sumberdadi. Disini para biker bisa istirahat sejenak sambil menikmati segarnya air sungai untuk membersihkan badan ataupun sepeda jika berlumpur.

Di tempat inilah seni bersepeda di TMBA berakhir. Perjalanan selanjutnya adalah jalan aspal kampung yang akan berakhir menuju pusat kota.

Dunia MTB Trenggalek
Trenggalek adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian barat daya Jawa Timur yang berbatasan dengan kabupaten Tulungagung di sebelah timur dan Ponorogo-Pacitan di bagian barat. Bagian utara Trenggalek adalah pegunungan Wilis yang berbatasan dengan wilayah Nganjuk, sedangkan samudra Hindia membatasi Trenggalek di bagian selatan.
Dengan keadaan geografis yang bergunung-gunung Trenggalek sangat berpotensi untuk berkembangnya olahraga sepeda gunung (MTB), yang mana MTB sendiri mempunyai beberapa macam disiplin.
Pada awalnya MTB di Trenggalek telah mulai muncul pada awal tahun 2000 dengan berdirinya sebuah club yang beranggotakan beberapa dokter dan para pegawai RSUD Dr. Soedomo Trenggalek. SOEDOMO HOSPITAL CYCLING CLUB (SHCC) klub ini populer disebut. Menyusul berdirinya SHCC, beberapa tahun kemudian (200-2003) muncul club baru yang beranggotakan anak-anak muda yang sebagian besar berdomisili di daerah Kelutan. PHYT CYCLING CLUB namanya. Pada awalnya club ini sangat aktif mengikuti event-event mtb tour, latihan bersama maupun acara fun bike. Namun sayang tidak ada kelanjutan eksistensi mereka sekarang ini. Pada masa itu pula berdiri TMCC yang bermarkas di daerah Sumbergedong, di seputaran pasar PON. Eksistensi mereka juga sangat bagus, meskipun sekarang hanya tinggal beberapa anggota yang aktif.
Awal tahun 2006, tepatnya 11 Maret 2006 sebuah komunitas penggemar sepeda gunung yang beranggotakan para muda muncul. Pada sebuah acara tumpengan yang dihadiri beberapa anggota klub lain ini mereka meresmikan nama Mountain Bike Rider Community (MRC) sebagai identitasnya. Dalam perkembangannya MRC yang beranggotakan pemuda-pemuda kreatif ini tidak hanya eksis dalam event-event santai. Mereka mulai merintis untuk mengikuti event yang lebih serius. Batu Downhill Championship 2008 seri I menjadi event pertama mereka. Dalam event ini MRC mengirimkan 4 orang atlitnya yang turun di kelas junior, master A dan hardtail open dengan hasil yang tidak mengecewakan. Mereka juga merintis pembuatan trek downhill di bukit seputaran daerah Watu Jago Srabah-Bendungan yang hanya berjarak 4km arah utara kota. Trek ini mereka jadikan sarana latihan mereka, dan diharapkan juga dimanfaatkan bagi penggemar dari club-club lain.
Belakangan ini Trenggalek juga diwarnai dengan munculnya club-club baru. Ada Bendo Cycling Club (BCC), Trenggalek Cycling Club (TCC) dan Jwalita Cycling Club (JCC). Klub-klub baru ini kini semakin mewarnai indahnya dunia MTB trenggalek.
Dengan keadaan geografis yang bergunung-gunung Trenggalek sangat berpotensi untuk berkembangnya olahraga sepeda gunung (MTB), yang mana MTB sendiri mempunyai beberapa macam disiplin.
Pada awalnya MTB di Trenggalek telah mulai muncul pada awal tahun 2000 dengan berdirinya sebuah club yang beranggotakan beberapa dokter dan para pegawai RSUD Dr. Soedomo Trenggalek. SOEDOMO HOSPITAL CYCLING CLUB (SHCC) klub ini populer disebut. Menyusul berdirinya SHCC, beberapa tahun kemudian (200-2003) muncul club baru yang beranggotakan anak-anak muda yang sebagian besar berdomisili di daerah Kelutan. PHYT CYCLING CLUB namanya. Pada awalnya club ini sangat aktif mengikuti event-event mtb tour, latihan bersama maupun acara fun bike. Namun sayang tidak ada kelanjutan eksistensi mereka sekarang ini. Pada masa itu pula berdiri TMCC yang bermarkas di daerah Sumbergedong, di seputaran pasar PON. Eksistensi mereka juga sangat bagus, meskipun sekarang hanya tinggal beberapa anggota yang aktif.
Awal tahun 2006, tepatnya 11 Maret 2006 sebuah komunitas penggemar sepeda gunung yang beranggotakan para muda muncul. Pada sebuah acara tumpengan yang dihadiri beberapa anggota klub lain ini mereka meresmikan nama Mountain Bike Rider Community (MRC) sebagai identitasnya. Dalam perkembangannya MRC yang beranggotakan pemuda-pemuda kreatif ini tidak hanya eksis dalam event-event santai. Mereka mulai merintis untuk mengikuti event yang lebih serius. Batu Downhill Championship 2008 seri I menjadi event pertama mereka. Dalam event ini MRC mengirimkan 4 orang atlitnya yang turun di kelas junior, master A dan hardtail open dengan hasil yang tidak mengecewakan. Mereka juga merintis pembuatan trek downhill di bukit seputaran daerah Watu Jago Srabah-Bendungan yang hanya berjarak 4km arah utara kota. Trek ini mereka jadikan sarana latihan mereka, dan diharapkan juga dimanfaatkan bagi penggemar dari club-club lain.
Belakangan ini Trenggalek juga diwarnai dengan munculnya club-club baru. Ada Bendo Cycling Club (BCC), Trenggalek Cycling Club (TCC) dan Jwalita Cycling Club (JCC). Klub-klub baru ini kini semakin mewarnai indahnya dunia MTB trenggalek.
Langganan:
Komentar (Atom)