Di Trenggalek ada banyak pilihan trek dengan bermacam tantangan bagi anda penggemar cross country maupun all mountain.
TMBA
TMBA adalah sebuah sebutan event MTB yang pertama kali digelar di Trenggalek pada tahun 2003. Berawal dari pusat kota (alun-alun) perjalanan mengarah ke utara kota melewati jalan aspal mulus menuju desa Ngares. Memasuki desa Ngares udara sejuk mulai terasa pada saat kita melintasi kaki gunung yang ada di kanan jalan. Entah gunung apa namanya!? Berjalan ke utara kita akan menemui pertigaan, dimana pada hari-hari tertentu di sekitar sini ramai pedagang dan pengunjung pasar Ngares. Lepas dari pasar kita akan menemui tanjakan pertama dengan kemiringan yang lumayan sejauh 500 m. meski agak berat tapi pemandangan di sini cukup indah dengan bukit di sisi kiri dan kanan yang tampak hijau. Setelah menemui area perumahan penduduk (ex korban tanah longsor) jalanan akan melandai yang memungkinkan kita untuk ambil nafas. Perjalanan masih akan terus melewati jalanan aspal mulus naik turun dan berbelok-belok dengan hutan pinus di kiri kanan jalan. Di tengah perjalanan kita akan menemui gerbang TPA yang biasa digunakan ngaso para biker, sebelum sampai di pertigaan masjid desa Srabah. Di seputaran sini kita bisa istirahat lagi sambil menikmati sego angkrik (nasi plus bothok teri bungkus yang ditanak bareng) di warung kecil sekitar pertigaan. Menariknya makanan ini sangat menggugah selera, murah lagi. cuma 600 Rupiah per bungkus.

Dari pertigaan lanjut ke kanan yang akan disambut tanjakan extrim yang memaksa kita peras tenaga atau nuntun sepeda kita untuk menaklukkannya. Sampai puncaknya kita menemui jalanan landai yang dilanjutkan turunan yang curam di beberapa bagian sepanjang 500 m. Setelah bonus turunan ini kita akan dihadapkan tanjakan yang ekstrim lagi meski cuma 100 m dan berakhir di sebuah pertigaan perusahaan eternit. Dari sini kita ambil arah kanan mengambil jalan turunan makadam. Di ujung turunan kita akan bertemu tanjakan yang tak begitu tinggi, yang dilanjutkan turunan yang berkelok-kelok yang akan memacu adrenalin kita. Turunan dapat kita libas dengan kecepatan tinggi karena jalur yang cukup lebar. Pacu jantung akan berakhir di turunan kuburan (krn di samping kuburan). Selanjutnya dua tanjakan telah menyambut kita. Dari puncak tanjakan ini kita akan kembali dimanjakan dengan turunan panjang berbelok-belok dengan trek yang cukup lebar di bawah rindangnya hutan pinus Pager Ukir. Turunan sepanjang 4km ini merupakan trek favorit karena kontur tanah yang bergelombang menyajikan sensasi tersendiri. Di ujung turunan ini kita akan dihadapkan pada turunan berbatu cadas yang akan diikuti dengan lintasan berbatuan lepas yang berakhir di depan sebuah sekolah SD Sumberdadi. Disini para biker bisa istirahat sejenak sambil menikmati segarnya air sungai untuk membersihkan badan ataupun sepeda jika berlumpur.

Di tempat inilah seni bersepeda di TMBA berakhir. Perjalanan selanjutnya adalah jalan aspal kampung yang akan berakhir menuju pusat kota.






TMBA
TMBA adalah sebuah sebutan event MTB yang pertama kali digelar di Trenggalek pada tahun 2003. Berawal dari pusat kota (alun-alun) perjalanan mengarah ke utara kota melewati jalan aspal mulus menuju desa Ngares. Memasuki desa Ngares udara sejuk mulai terasa pada saat kita melintasi kaki gunung yang ada di kanan jalan. Entah gunung apa namanya!? Berjalan ke utara kita akan menemui pertigaan, dimana pada hari-hari tertentu di sekitar sini ramai pedagang dan pengunjung pasar Ngares. Lepas dari pasar kita akan menemui tanjakan pertama dengan kemiringan yang lumayan sejauh 500 m. meski agak berat tapi pemandangan di sini cukup indah dengan bukit di sisi kiri dan kanan yang tampak hijau. Setelah menemui area perumahan penduduk (ex korban tanah longsor) jalanan akan melandai yang memungkinkan kita untuk ambil nafas. Perjalanan masih akan terus melewati jalanan aspal mulus naik turun dan berbelok-belok dengan hutan pinus di kiri kanan jalan. Di tengah perjalanan kita akan menemui gerbang TPA yang biasa digunakan ngaso para biker, sebelum sampai di pertigaan masjid desa Srabah. Di seputaran sini kita bisa istirahat lagi sambil menikmati sego angkrik (nasi plus bothok teri bungkus yang ditanak bareng) di warung kecil sekitar pertigaan. Menariknya makanan ini sangat menggugah selera, murah lagi. cuma 600 Rupiah per bungkus.
Dari pertigaan lanjut ke kanan yang akan disambut tanjakan extrim yang memaksa kita peras tenaga atau nuntun sepeda kita untuk menaklukkannya. Sampai puncaknya kita menemui jalanan landai yang dilanjutkan turunan yang curam di beberapa bagian sepanjang 500 m. Setelah bonus turunan ini kita akan dihadapkan tanjakan yang ekstrim lagi meski cuma 100 m dan berakhir di sebuah pertigaan perusahaan eternit. Dari sini kita ambil arah kanan mengambil jalan turunan makadam. Di ujung turunan kita akan bertemu tanjakan yang tak begitu tinggi, yang dilanjutkan turunan yang berkelok-kelok yang akan memacu adrenalin kita. Turunan dapat kita libas dengan kecepatan tinggi karena jalur yang cukup lebar. Pacu jantung akan berakhir di turunan kuburan (krn di samping kuburan). Selanjutnya dua tanjakan telah menyambut kita. Dari puncak tanjakan ini kita akan kembali dimanjakan dengan turunan panjang berbelok-belok dengan trek yang cukup lebar di bawah rindangnya hutan pinus Pager Ukir. Turunan sepanjang 4km ini merupakan trek favorit karena kontur tanah yang bergelombang menyajikan sensasi tersendiri. Di ujung turunan ini kita akan dihadapkan pada turunan berbatu cadas yang akan diikuti dengan lintasan berbatuan lepas yang berakhir di depan sebuah sekolah SD Sumberdadi. Disini para biker bisa istirahat sejenak sambil menikmati segarnya air sungai untuk membersihkan badan ataupun sepeda jika berlumpur.

Di tempat inilah seni bersepeda di TMBA berakhir. Perjalanan selanjutnya adalah jalan aspal kampung yang akan berakhir menuju pusat kota.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar